Shoppe Mall Shoppe Mall Shoppe Mall

Menilik Sejarah Masjid Tertua di Padang Panjang Berusia Lebih dari 300 Tahun

Shoppe Mall
Masjid Asasi Tertua di Padang Panjang
Masjid Asasi Tertua di Padang Panjang

i News Padangpanjang – Masjid ini dikenal luas sebagai masjid tertua di Kota Padang Panjang, sekaligus menjadi pusat awal penyebaran ajaran Islam di daerah ini. Awalnya dikenal sebagai Surau Gadang, tempat ini didirikan pada tahun 1685 oleh komunitas dari empat nagari utama: Gunuang, Paninjauan, Jaho, dan Tambangan. Surau Gadang kemudian diresmikan sebagai Masjid Asasi pada tahun 1702, menandai pergeseran dari surau sebagai pusat pendidikan Islam tradisional menjadi institusi keagamaan yang lebih formal. Setiap hari Jumat, masyarakat dari keempat nagari tersebut berkumpul untuk melaksanakan ibadah berjamaah di Masjid Asasi. Kegiatan ini berlangsung selama bertahun-tahun, menjadikan masjid ini sebagai pusat spiritual dan sosial masyarakat sekitar.

Baca Juga : Cerita Peternak Raup Cuan Kembangkan Kambing Etawa di Padang Panjang

Shoppe Mall

Namun, seiring perkembangan waktu, masjid-masjid baru mulai dibangun di masing-masing nagari. Kini, Nagari Gunuang memiliki empat masjid besar: Masjid Taqwa Ngalau, Masjid Nurul Huda Ganting, Masjid Nurul Iman Ekor Lubuk, dan tentu saja Masjid Asasi. Seluruhnya berada di bawah koordinasi Tuanku Ampek Jurai, majelis ulama lokal yang menjaga nilai-nilai adat dan agama.

Arsitektur Unik Masjid dan Bernilai Sejarah

Masjid Asasi memiliki struktur arsitektur yang khas, dengan sembilan tiang utama, termasuk satu tiang tengah yang disebut “Tonggak Macu” atau tiang sokoguru, serta delapan tiang penyangga lainnya yang mengelilinginya. Uniknya, seluruh tiang ini masih asli sejak awal pembangunannya lebih dari tiga abad lalu.

“Bangunan Masjid Asasi ini memiliki ukiran yang mencerminkan perpaduan tiga aliran budaya: Hindu, Tiongkok, dan Minangkabau,” ujar Azhar Nur, salah satu tokoh sepuh Masjid Asasi, seperti dikutip dari Infopublik.id.

Ukiran-ukiran tersebut mengalami beberapa perubahan seiring waktu. Pada tahun 1925, seorang seniman ukir bernama Pakiah Tailan dari Nagari Paninjauan melakukan restorasi ornamen masjid. Meski telah diubah, sebagian ukiran asli berwarna kemerahan masih dapat ditemukan, dibuat dari tanah liat dan bukan menggunakan cat biasa. Ukiran dua tingkat ini memperlihatkan seni dan spiritualitas yang melebur dalam satu kesatuan estetika.

Atap Ijuk Masjid, Menara Adzan, dan Sumber Air Suci

Dahulu, atap masjid terbuat dari ijuk, material tradisional yang sering digunakan pada bangunan tua Minangkabau. Namun, sebelum tahun 1900, atap diganti dengan seng berundak tiga tingkat berbentuk limas, dirancang untuk memudahkan aliran air hujan sekaligus menambah nilai artistik bangunan.

Masjid ini juga memiliki menara adzan yang dahulu terbuat dari plat seng, digunakan sebelum pengeras suara modern hadir. Meski sederhana, menara ini menjadi simbol penting penyebaran suara Islam ke seluruh penjuru nagari.

Masjid Asasi juga berdiri tidak jauh dari sumber mata air yang dikenal dengan nama “Bulaan”, berupa kolam berukuran sekitar 8 x 10 meter. Menurut cerita masyarakat, mata air ini memiliki penutup dari kayu jati yang kini telah memfosil, menandakan betapa tuanya sumber tersebut. Bulaan menjadi penopang kehidupan dan tempat bersuci para jemaah, memperkuat keterkaitan antara masjid dan sumber alam.

Peran Syekh Sultan Ishak dan Pusaro Gadang

Masjid Asasi juga erat kaitannya dengan Syekh Sultan Ishak atau Tuanku Daulat, seorang tokoh ulama besar yang dikenal menyebarkan Islam di Nagari Gunuang pada akhir abad ke-17. Ia diyakini sebagai pendiri awal gerakan keislaman di kawasan ini, mengintegrasikan pendidikan agama dengan nilai adat Minangkabau.

Makmumnya, yang dikenal dengan nama Pusaro Gadang, menjadi tempat ziarah penting, terutama selama bulan Maulid dan musim Haji, ketika masyarakat dari berbagai nagari di Minangkabau datang untuk berdoa dan mengenang jasa-jasa beliau.

Simbol Warisan Budaya dan Iman

Masjid Asasi bukan sekadar tempat ibadah, tetapi merupakan simbol identitas religius dan budaya masyarakat Minangkabau. Nilai-nilai sejarah, arsitektur, spiritualitas, serta hubungan erat dengan tokoh-tokoh penyebar Islam menjadikannya warisan yang sangat berharga.

Sebagai masjid tertua di Padang Panjang, keberadaan Masjid Asasi menunjukkan bagaimana Islam berkembang dengan kearifan lokal. Ini menjadi bukti bahwa agama dan budaya dapat hidup berdampingan dan saling memperkaya satu sama lain.

Ke depan, diharapkan Masjid Asasi bisa terus dirawat, dipelihara, dan dikembangkan sebagai destinasi wisata religi dan budaya, sekaligus menjadi pusat edukasi sejarah keislaman bagi generasi muda.

Shoppe Mall